PERANAN SAINS MENURUT ISLAM

 

Sebenarnya, bukan sahaja sains dan teknologi yang Tuhan ketahui. Karena Tuhan hendak menjadikan manusia ini sebagai hamba dan menjadikan khalifah mentadbir dunia maka Tuhan tahu apa yang mesti dibekalkan. Jadi Tuhan datangkan manusia ke dunia bukan dengan tangan kosong. Tapi Tuhan siapkan khazanah, aset kekayaan baik yang bersifat material atau pun berupa ilmu sains. Supaya khazanah-khazanah dan kekayaan itu, segala kepandaian itu yang Tuhan izinkan manusia menguasainya, dapat digunakan untuk hamba-hamba Allah juga. Supaya dibagi-bagikan, supaya dimanfaatkan untuk hamba-hamba Allah, supaya benda-benda itu dikhidmatkan kepada manusia.

Jadi melalui peranan hamba dan khalifah tadi dengan kekayaan, bahan-bahan, aset-aset, yang diberikan Tuhan, merekapun memanfaatkan untuk seluruh manusia. Maka akan timbullah kasih sayang diantara manusia yang ramai dan lemah ini supaya manusia yang sedikit dan kuat itu dapat memberikan khidmat dan manfaat. Maka terjadilah kasih sayang antara 2 kelompok, hidup harmoni dan bahagia. Jadi soal sains dan teknologi berdiri sendiri. Tuhan jadikan semua itu sebagai alat, sebagai perhubungan supaya lahir kasih sayang antara sesama manusia.

Namun, manusia, yang memang pun dijuluki ‘insan’, yang artinya pelupa, kebanyakan manusia lupa bahwa alat-alat tersebut, baik berupa ilmu, material, Tuhan berikan untuk dijadikan alat kasih sayang. Padahal Allah yang Maha Pengasih, Penyayang, sentiasa mengingatkan manusia sekurang-kurangnya 5 kali sehari semalam, di akhir ibadah asas penghambaan manusia pada Tuhan, yaitu solat, Allah ingatkan manusia untuk memberi salam ke sebelah kiri dan ke sebelah kanan. Seolah Tuhan ingatkan, ‘Lepas ini buktikan penghambaan engkau kepadaKu dengan cara bekhidmat, menebarkan kasih sayang ke seluruh makhluk dengan menggunakan bekalan yang Aku beri.’

Malangnya manusiapun sering kalah dengan makluk lain dalam memanfaatkan bekalan yang Tuhan beri. Walaupun seorang saintis sekalipun. Kalau kita melihat burung, sejak dalam telur lagi Tuhan tahu apa kebutuhan burung. Bila sudah cukup lengkap alat-alat anggota tubuhnya, Tuhan ilhamkan pada burung itu untuk menetas. Bukan itu saja, Tuhan lengkapkan juga keadaan sekitar untuknya. Misalnya dijadikan adanya kasih sayang induk pada burung, hingga sebelum burung dapat mencari makan sendiri, si ibu akan pergi mencari makan dan kembali ke sarangnya tanpa pernah salah dimana letak sarangnya! Kita tidak dapat bayangkan kalau Tuhan tidak lengkapkan ini, maka matilah anak burung sebelum dapat menjadi besar. Setelah itu tidak lama kemudian, sayap yang tadinya basah lama-kelamaan menjadi kering, kemudian dia coba-coba untuk terbang. Aneh, berbagai cara burung terbang. Dia tahu sayapnya sesuai untuk jenis terbang yang seperti apa. Ada yang ‘take off’ secara vertikal, ada yang perlu berlari-lari kecil dahulu, dan lain-lain. Sedangkan burung tidak belajar di ‘sekolah’. Siapa yang mengajarkan mereka dengan begitu hebat? Sedangkan bermilyar-milyar burung dalam waktu bersamaan, sedang belajar. Patutnya itupun sudah cukup membuat seseorang tersungkur di hadapan Tuhan. Tapi betapa malangnya manusia, yang katanya sainsnya tinggi, teknologinya canggih, riset puluhan tahun untuk membuat pesawat dengan meniru burung terbang, tidak sampai kepada rasa bahwa ada yang Maha Hebat yaitu Tuhan.

Kalau diambil contoh yang sangat mudah, seorang ibu bila melahirkan anak akan dilengkapkan dengan ASI. Tetapi karena hendak menjaga ‘body’, seorang ibu, bahkan ada yang saintis, tidak pun mahu menyusukan anaknya. Akhirnya banyak yang timbul penyakit, juga kasih sayang ibu dan anak tidak menjadi subur bahkan mati. Kalaulah dia berprilaku sebagai hamba, dia akan bertanya pada Tuhan, bagaimana menggunakan alat-alat untuk menjaga anaknya. Bila rasa hamba tiada, jangankan hendak menjadi khalifah bagi orang lain, kepada anak sendiripun kasih sayang tidak menjadi perhatian baginya. Kalaulah rasa hamba ada pada seseorang, maka dia akan merasa bahwa dirinya adalah hak Tuhan. Sains juga adalah hak Tuhan. Maka dia akan gunakan sains dan dirinya menurut apa yang Tuhan kehendaki.

Begitulah pentingnya rasa hamba pada manusia. Bila rasa hamba sudah tiada, maka dia akan sombong, zalim, menyalah gunakan kuasa. Segala kekayaan ilmu, khazanah sains dan ekonomi yang Tuhan bagi yang patutnya digunakan untuk kasih sayang, dia akan ambil kepentingan diri. Jadi alat-alat yang Tuhan bagi itu bukan untuk Allah lagi dan bukan untuk manusia tapi untuk kepentingan diri dan monopoli. Akhirnya jadi manusia yang sombong. Inilah yang berlaku sejak dunia ada. Sombong sampai saat ini. Jarang seorang hamba dapat mengekalkan sifat hamba. Jika tidak dapat mengekalkan sifat hamba, bila mereka menguasai pentadbiran atau pemerintahan, maka mereka menyalah-gunakan kuasa, akhirnya mereka akan menyalah gunakan alat-alat yang Tuhan bagi.

4. Rasa Hamba Kehebatan Saintis
Dari uraian di atas, jelaslah bagi kita bahwa jika hanya karena seseorang itu orang yang pandai, ahli sains, orang kaya, orang yang berkuasa, orang yang berpendidikan tinggi, atau yang mendapat penemuan-penemuan sains, kita tidak bangga dengannya. Yang kita bangga kalau dia memiliki rasa hamba dan dapat mengekalkan sikap hambanya itu. Bila dia jadi pemimpin atau berperanan di berbagai bidang dan dapat mengekalkan sifat hambanya, barulah dia dapat dibanggakan. Kalau pemimpin ada sifat hamba, dia tidak akan menyalah gunakan kuasa dan dia tidak akan menyalah gunakan alat-alat yang Tuhan bagi bahkan ia akan turut berperanan serta dalam melahirkan keamanan, kedamaian, dan keharmonian.

Malangnya yang terjadi justeru sebaliknya. Dengan ilmu dan kuasanya, manusia jadi lebih kejam dari pada yang tidak ada ilmu. Yang berkuasa menyalah gunakan kuasanya. Untunglah kita tidak kuat seperti Amerika. Kalau kita kuat seperti Amerika, sedangkan rasa hamba tidak ada, maka kita akan kejam seperti Amerika juga. Waktu kita lemah, Amerika kuat dan menyalah gunakan kuasa, kita katakan Amerika zalim. Kalaulah kita kuat dan kitapun tidak ada rasa hamba, maka kejadiannya akan sama, Amerika akan kata kita zalim.

Negara-negara Non blok yang sudah bersidang marah dengan Amerika. Coba kita bertanya pada mereka. Kalau mereka kuat seperti Amerika, apakah mereka tidak akan menyerang Amerika? Jangan-jangan mereka akan jajah Amerika. Apa bukti bahwa kalau mereka kuat seperti Amerika, mereka akan berkhidmat pada dunia? Jangan-jangan jadi lebih jahat daripada Amerika. Setengahnya baru saja berkuasa di satu negara, sudah zalim pada rakyat, walaupun dengan mengatasnamakan keadilan. Kalau kekuatannya lebih besar lagi, bisa jadi menyerang negara lain, sebab rasa hamba tiada. Bila rasa hamba tiada, bukan saja dia rasa tuan. Yang lebih parahnya lagi, dia akan rasa diri Tuhan.

Mengekalkan rasa hamba bukanlah satu tugas yang mudah. Ini lebih sulit daripada menemukan ilmu-ilmu. Oleh karenanya, untuk mengembangkan sains dan teknologi, Tuhan tidak perlu mengutus nabi dan rasul. Bahkan orang tidak kenal Tuhan pun Tuhan beri juga. Tapi untuk mendapatkan rasa hamba yang memang sangat diperlukan manusia, Tuhan turunkan Nabi dan Rasul.

Itulah kasih sayang Tuhan yang amat besar pada manusia, mengutus nabi dan rasul untuk mendidik manusia agar mendapatkan rasa hamba. Manusia yang sudah tidak ada rasa hamba, sebenarnya dia berada dalam kesalahan. Dosa setiap saat ditulis bila tak ada rasa hamba. Betapalah berdosanya bila satu hari, 1 bulan, 1 tahun tidak ada rasa hamba. Ini adalah salah satu sains rohaniah yang banyak manusia sudah melupakannya. Padahal manusia diperintahkan untuk mengekalkannya. Oleh karenanya sejak zaman Rasul SAW, setelah Khulafaur rasyidin tiada, kita sudah kehilangan orang-orang seperti ini. Kita rindu dengan orang yang digelar barruhrahim. Yang pengasih dan peyayang.

Sejarah telah membuktikan bagaimana sahabat-sahabat itu membuat orang-orang kafir masuk Islam. Adakah ini karena orang kafir kagum dengan ilmu, sains dan teknologi para sahabat? Padahal sahabat tidak tahu lagi ilmu-ilmu sains yang canggih-canggih. Sebab waktu itu Arab belum maju seperti Romawi dan Parsia. Tetapi orang masuk Islam. Bukan karena kagum dengan ilmu, sains dan teknologi, tapi karena faktor taqwa. Sahabat-sahabat yang pergi ke China, cuma dua atau 3 orang saja. Waktu itu China sudah maju. Orang China masuk Islam waktu itu bukan karena ilmu, sains dan teknologi para sahabat, bahkan para sahabat belum lagi tahu bahasa cina, tetapi masyarakat tertarik dengan akhlak sahabat. Sekarang banyak saintis Islam di dunia bahkan sudah ada yang mendapat hadiah Nobel. Sudah berapa banyak orang masuk Islam karena sains mereka? Sekarang bukan saja dengan saintis orang tidak tertarik dengan Islam, bahkan karena belajar sains ada yang hingga terganggu keislamannya. Karena terlalu membesarkan sains, ada seorang pelajar berkata: Tuhan tidak buat kapal terbang, Amerika buat kapal terbang. Sudah banyak yang syirik karena sains. Padahal sains hanya 1 juzuk kecil dalam kehidupan manusia. Kita mesti memanfaatkan sains supaya manusia semakin takut dengan Allah dan dapat mentadbir dunia moden supaya orang takut dengan Allah.

Patutnya para saintis, merekalah orang yang paling takut dengan Allah. Tapi karena hal itu tak terjadi, maka berapa banyak ingatan dari Tuhan yang Allah datangkan dengan menggunakan hasil teknologi manusia sendiri. Bencana-bencana yang tidak pernah terjadi sebelum ini. Di USA mudah saja Allah hancurkan kota-kota.

About these ads
Categories: Arkib | Tinggalkan komen

Post navigation

Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: